Skripsi
RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI RUMAH SAKIT MOHAMMAD HOESIN PERIODE JULI-DESEMBER 2012
Saat ini demam tifoid masih merupakan salah satu penyakit infeksi bakteri yang banyak ditemukan di negara-negara berkembang khususnya Indonesig. Terapi medikameptosa pada pengobatan demam tifoid dapat dilakukan dengan pemberian antibiotika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemberian antibiotika pada demam tifoid di Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang. Metode: Penelitiqp penggunaan obat antibiotika pada demam tifoid dilakukan Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang periode Juli sampai Desember 2012 dz\n terdapat 30 sampel dari data rekam medik pusat. Hasil: Dari 30 sampel yang diteliti, terdapat 30 penggunaan antibiotika dengan penggunaan siprofloksasin merupakan yang terbanyak, yaitu 14 sampel (46,6%), seftriakson 11 sarnpel (36,6%), kloramfenikol 3 sampel (10%), amoksisilin 1 samppl (3,33%), dan sefo{aksim 1 sampel (3,33%). Frekuensi penggunaan antibiotika yang terbanyak adalah siprofloksasin 2 kali sehari yakni 12 sampel (40%). Dosis antibiotika yang paling banyak digunakan adalah siprofloksasin 500 mg (36,6%). Lama pemberian antibiotika yang paling banyak yakni siprofloksasin 6 hari (46,6%). Antibiotika yang diberikan sebagai terapi pilihan maupun penunjang diketahui 89% tidak memiliki kemungkinan interaksi dengan obat lain yang diberikan dalam terapi demam tifoid. Adapun 11% dari kombinasi obat yang dapat menimbulkan kemungkinan yang bersifat antagonis yakni, kloramfenikol-antasida (4,45%), dc*n siprofloksasin-ant^sida (6,8%). Simpulan: Disimpulkan bahwa penggunaan antibiotika pada pasien demam tifoid di Rumah Sakit Mohpmmad Hoesin kurang rasional.
Inventory Code | Barcode | Call Number | Location | Status |
---|---|---|---|---|
1407000358 | T80966 | T809662014 | Central Library (REFERENCES) | Available but not for loan - Not for Loan |
No other version available